WELCOME IN MYBLOG,SETA WIRIAWAN

SELAMAT DATANG

Minggu, 30 Desember 2007

Evakuasi / penyelamatan




Penanganan yang Komprehensif
Para difable atau korban selamat yang kemudian menjadi difable saat terjadinya bencana mengalami persoalan dalam penyusaian diri terhadap kondisi fisik, psikologis, dan sosial yang ada setelah terjadinya bencana. Perubahan fisik yang terjadi selain menimbulkan trauma psikologis juga menimbulkan persoalan sosial bagi mereka. Seringkali kondisi tersebut memunculkan konflik batin bagi korban yang bersangkutan untuk bisa menerima kenyataan bahwa kondisi fisik mereka sudah tidak seperti dulu.
Ketika seseorang menjadi difable, maka dia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa sebagian fungsi tubuhnya hilang, itu artinya dia juga harus kehilangan pekerjaan yang sebelumnya mereka miliki. Berbeda dengan para korban lain yang dengan begitu cepat dapat menyesuaikan diri, para difable memiliki kebutuhan khusus untuk dapat segera kembali melakukan aktifitas normalnya sehari-hari. Untuk itu maka penanganan paska bencana harus dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan berbagai sudut pandang, baik dari segi infrastruktur fisik, ekonomi dan sosial. Dengan begitu persoalan – persoalan yang dihadapi oleh difable paska bencana dapat diminimalisir.
Dalam perencanaan rekonstruksi bangunan paska terjadinya bencana alam semaksimal mungkin harus mempertimbangkan faktor aksesibilitas sehingga fasilitas yang dibangun dapat mengakomodasi keberadaan para difable. Hal ini juga berlaku pada saat emergency respond di daerah pengungsian, dimana fasilitas yang dibangun harus juga memperhatikan keberadaan para difable sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari. Selain itu kebutuhan yang perlu dipertimbangkan adalah pertama,sistem komunikasi yang aksesible. Sistem komunikasi dalam situasi bencana memainkan peranan penting dalam keselamatan korban. Selama ini kita masih banyak menggunakan sistem komunikasi audio seperti alarm untuk menyampaikan peringatan terjadinya bahaya bencana. Sistem seperti ini jelas tidak dapat diakses oleh mereka kelompok difable rungu. Sehingga memang sudah seharusnya didesain sebuah sistem komunikasi audio visual sehingga memungkinkan para difable rungu untuk mengaksesnya. Kedua desain sistem evakuasi bencana yang aksesible sehingga memungkinkan untuk mengevakuasi para difable yang memiliki persoalan mobilitas di situasi bencana. Ketiga, tentang bagaimana membangun sistem distribusi bantuan yang merata dan memungkinkan bantuan tersebut dapat diterima langsung oleh yang membutuhkan. Sistem distribusi bantuan yang ada sekarang sangat tidak memungkinkan bagi para difable dan kelompok rentan lain untuk mengaksesnya. Sehingga kondisi ini menyebabkan para difable seringkali tidak mendapatkan jatah mereka kecuali hanya menggantungkan dari belas kasihan teman dan saudara.
Dimensi lain yang perlu diperhatikan dalam situasi bencana adalah dimensi ekonomi.Banyak dari para korban bencana yang kemudian kehilangan mata pencaharian paska terjadinya bencana karena rusaknya infrastruktur dimana mereka dulu bekerja. Selain itu hilangnya mata pencaharian juga disebabkan oleh kondisi sebagian mereka yang menjadi difable sehingga kehilangan fungsi tubuhnya untuk melakukan aktifitas bekerja sebagaimana sebelumnya. Untuk itu perlu didesign sebuah sistem pengembangan ekonomi bagi para korban bencana yang bertumpu pada semangat kewirausahaan dengan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi lokal yang dimiliki daerah. Untuk itu pemberian bekal ketrampilan untuk mengolah potensi lokal harus segera dilakukan serta segera menghentikan pemberian bantuan yang bersifat karitatif. Karena pemberian bantuan karitatif dalam jangka waktu lama hanya akan membuat para korban menjadi tergantung dan tidak mandiri.
Dimensi terakhir adalah dimensi sosial psikologi. Dimana dimensi ini sangat berpengaruh dalam kehidupan selanjutnya para difable di masyarakat. Sementara ini masih banyak pandangan di masyarakat bahwa difable merupakan sebuah kondisi yang tidak menguntungkan dan perlu untuk dikasiani atau disantuni. Sebagian para difable sendiri juga masih memandang difable sebagai kondisi yang memalukan sehingga ada kecendrungan dari para difable untuk mengurung diri di rumah. Pandangan-pandangan tersebut menjadi telah menjadi hambatan sosial bagi para difable untuk melakukan interaksi sosial di masyarakat secara penuh. Oleh karena itu perlu dirancang sebuah program dan aktifitas yang memberi kesempatan bagi para difable untuk berpartisipasi secara terbuka dalam aktifitas sosial di masyarakat.
Kita memang tidak dapat mengelak terhadap terjadinya bencana alam dan akibat yang ditimbulkannya. Yang dapat kita lakukan hanyalah bagaimana kita dapat meminimalisir penderitaan yang dialami oleh para korban dengan memberikan pelayanan bantuan sebaik-baiknya.

Tidak ada komentar: