WELCOME IN MYBLOG,SETA WIRIAWAN

SELAMAT DATANG

Minggu, 30 Desember 2007

Hal yang dilakukan pra maupun saat terjadi bencana





Masyarakat Dibuat Siap Menghadapi Bencana




Sebenarnya kita harus banyak belajar dari setiap kejadian yang menimpa kita. Apapun kejadian tersebut, bagaimanapun kejadian tersebut, baik kejadian yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan.Salah satunya adalah bencana alam. Maksud bencana atau musibah adalah pergiliran kepada manusia, dan sebagai batas agar manusia tidak menyombongkan diri dan membanggakan diri (QS. Al Hadiid:23). Menghadapi bencana alam adalah sebuah tindakan baik tindakan pra-bencana, tindakan saat bencana, dan tindakan pasca bencana.

Tindakan pra-bencana
Adalah tindakan yang diupayakan untuk menghindari bencana, sebelum terjadi bencana. Caranya adalah dengan adanya peringatan awal (early warning) akan terjadinya bencana. Kemudian masyarakat juga harus di-sosialisasikan bagaimana menghadapi bencana (gempa, banjir, gunung meletus, badai dsb). Banyak artikel atau tips tentang bagaimana menghadapi musibah. Ini dilakukan agar masyarakat mengerti apa yang akan dilakukan (tindakan preventif) apabila kalau2 terjadi bencana.

Tindakan saat bencana
Adalah tindakan yang dilakukan saat bencana, bila bencana memang benar-benar terjadi. Cara ini bergantung pada usaha-usaha yang dilakukan pada point pertama (tindakan pra bencana). Minimal, sosialisasi bagaimana menghadapi bencana sudah dilakukan dengan baik dan masyarakat dapat melalukannya saat terjadi bencana. Misal, bagaimana seharusnya yang dilakukan apabila terjadi gempa, segera keluar dari bangunan dsb.
Perlindungan Bencana Gempa Bumi
Dewasa ini semakin banyak kota besar berpenduduk puluhan juta orang dibangun di kawasan kegempaan aktif. Karena itu perlindungan terhadap ancaman bencana harus menjadi prioritas.
Bencana gempa bumi dewasa ini amat ditakuti, karena sering menimbulkan korban jiwa dan memusnahkan harta benda. Padahal, gempa bumi adalah gejala alam yang memang akan terus menerus terjadi di bumi yang dinamis ini. Hanya saja pertumbuhan penduduk amat pesat, serta konsentrasi populasi di kawasan tertentu yang sebetulnya rawan gempa Bumi, menyebabkan jatuhnya korban jiwa cukup banyak.
Salah satu peristiwa gempa Bumi hebat, yang selalu disebut-sebut dalam sejarah geologi, adalah gempa bumi dahsyat di San Fransisco tahun 1906. Pada saat itu lebih dari tiga ribu orang tewas akibat gempa berkekuatan 7,8 skala Richter tersebut. Tapi, sebetulnya gempa lebih hebat pernah mengguncang California tahun 1857 dengan kekuatan lebih dari 8 pada skala Richter.
Pada tanggal 9 Januari 1857 gempa hebat mengguncang kawasan Fort Tejon, yang lokasinya sekitar 100 km di utara Los Angeles. Lempengan di kedua sisi sesar San Andreas sepanjang 350 km bergerak vertikal sampai sembilan meter, bahkan sungai Kern alirannya berbalik arah kembali menuju hulu. Para geolog memperkirakan, gempa di Fort Tejon berkekuatan lebih dari 8 pada Skala Richter. Namun karena saat itu belum ada seismograph, kekuatan gempanya hanya dapat ditaksir dari perubahan yang terjadi akibat kekuatan gempa.
Gempa yang terjadi 150 tahun lalu itu nyaris luput dari perhatian. Gempa besar tahun 1906 di San Fransisco lebih banyak dibicarakan, demikian diungkapkan direktur pusat penelitian bencana dan risiko bencana di Universitas Columbia di New York Art Lerner Lam.
“Penyebabnya, mengapa semua lebih banyak membicarakan gempa bumi tahun 1906, karena kerusakannya dialami sebuah kota yang sedang tumbuh, yang menarik perhatian seluruh warga AS. Dan tragedi itu terjadi di saat koran-koran sudah mampu dengan cepat memberitakan bencana semacam itu. Tahun 1857, gempa bumi melanda kawasan yang jarang penduduknya di California, dan sebagai konsekuensinya peristiwa itu tidak banyak dibicarakan.“
Memang ketika itu demam emas menarik banyak orang beremigrasi ke California, tetapi hampir semua berbondong-bondong datang ke bagian utara, bukannya ke bagian selatan yang kering. Gempa besar yang melanda Fort Tejon tahun 1857 hanya menyebabkan tewasnya dua orang warga. Sementara tahun 1906 juga menjadi titik acuan bagi penelitian gempa bumi modern. Dalam kaitan inilah, berdasarkan pengetahuan baru yang berhasil dihimpun, para geolog menemukan terjadinya gempa di Fort Tejon sekitar 50 tahun sebelum gempa besar California. Demikian diungkapkan oleh pakar sejarah gempa bumi di Universitas Columbia, Lyn Sykes.
“Yang paling penting ketika itu, adalah kenyataan bahwa setelah gempa bumi tahun 1906, gubernur California membentuk sebuah komisi, yang ditugasi meneliti gempa tersebut. Jadi sejumlah geolog datang ke kawasan ini, dan akhirnya berhasil menemukan sesar San Andreas. Dalam penelitiannya mereka melaporkan terjadinya gempa bumi hebat tahun 1857.“
Tentu saja temuan jejak gempa bumi hebat ketika itu belum dapat mengungkapkan apa pemicu terjadinya gempa bumi. Patahan atau sesar besar San Andreas memang dapat ditemukan, namun bagaimana mekanisme atau gaya apa yang mempengaruhi terjadinya gempa, belum banyak diketahui. Di awal kegiatan penelitian gempa bumi modern, teori mengenai pergerakan lempeng tektonik belum muncul. Baru pada tahun 1912 peneliti kutub dan pakar ilmu kebumian Jerman, Alfred Wegener, melontarkan teori mengenai tektonik lempeng bumi.
Teori Wegener mengenai lapisan kerak bumi yang tipis, yang mengambang di atas cairan inti bumi yang kental, dan terus bergerak secara dinamis, selalu dipertentangkan para ahli geologi sampai lima dasawarsa. Baru di akhir tahun 50-an teori tektonik lempeng dapat dibuktikan kebenarannya. Teori Wegener yang digabung dengan data sejarah geologi kawasan kegempaan aktif, dapat dijadikan acuan untuk peramalan gempa di kawasan tersebut. Sykes menjelaskan: “Banyak sekali situs penelitian digali di sepanjang sesar San Andreas. Dan di banyak lokasi, kami dapat melihat jejak gempa bumi di masa lalu. Beberapa diantaranya berumur antara seribu hingga dua ribu tahun.“
Data mengenai sejarah gempa bumi semacam itu, kini dihimpun dalam bank data global, yang diberi nama Hot-Spots bencana alam, yang dibuat oleh Universitas Columbia. Dalam hot-spots itu antara lain ditampilkan analisis global mengenai kawasan mana yang terancam bencana apa, serta tindakan pencegahan apa yang disarankan. Art Lerner Lam menjelaskan lebih lanjut: “Dalam kaitan dengan gempa besar, seperti misalnya yang terjadi tahun 1857, bagi kami hal itu berarti, apakah kami memiliki kapasitas yang memadai untuk dapat menghadapi bencana hebat semacam itu. Di dunia Barat yang sudah maju, saya pikir, kita sudah memiliki kemampuannya dari sisi ekonomi, sosial maupun budaya. Akan tetapi, di negara berkembang hal ini masih merupakan masalah besar, karena di sana belum tersedia jaring pengaman semacam itu.“
Hot-Spots kawasan bencana alam ini amat berguna, untuk dapat memprediksi terjadinya bencana di kawasan aktif. Bank Dunia mendukung pembuatan bank data global kawasan potensial bencana alam di Universitas Columbia. Sebab dewasa ini sekitar 3,4 milyar penduduk dunia, bermukim di kawasan potensial bencana alam, khususnya gempa bumi. Gagasan di balik pembuatan peta kawasan bencana alam itu, terutama untuk memperkecil dampak dari bencana alam, khususnya di negara-negara berkembang. Selain itu, tentu saja untuk mencegah jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar. Bank Dunia melibatkan diri dalam penelitian kawasan potensial bencana alam ini, untuk dapat menarik keputusan cepat dalam pemberian bantuan; siapa yang harus mendapat prioritas bantuan dan segawat apa bencana alamnya.
Pemetaan lempeng tektonik menunjukan, potensi ancaman bencana berbeda-beda tergantung dari struktur dan kedalaman zone subduksi lempeng tektoniknya. Namun dalam tema pencegahan bencana, terdapat standar yang relatif sama, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Di kawasan rawan gempa misalnya, aturan mengenai konstruksi bangunan dan tatalaksana lahan harus dipatuhi. Sekolah dan rumah sakit tidak boleh dibangun di dekat patahan aktif. Serta penyuluhan terus menerus mengenai ancaman bencana alam.
Akan tetapi, semua juga harus menyadari, bencana selalu datang secara tidak terduga, juga di kawasan yang sudah tergolong relatif siap menghadapi bencana alam. Dan sekarang ini harus juga diperhitungkan jumlah korban jiwa cukup besar. Karena semakin banyak kota besar berpenduduk puluhan juta orang, yang dibangun di kawasan rawan gempa.

Tidak ada komentar: